Sunday, March 2, 2014

Juara Bertahan Putri dalam Kesulitan

Benahi Fisik Menjelang Final Four

JAKARTA - Tim putri Jakarta Popsivo PGN mengemban misi berat untuk mempertahankan gelar juara bertahan di BSI Proliga tahun ini. Setelah menelan empat kekalahan dari 12 kali bermain di babak reguler, banyak yang memprediksi bahwa Rita Kurniati dkk bakal sulit mempertahankan juara.

Tahun ini Jakarta Popsivo kalah masing-masing dua kali dari Jakarta Pertamina Energi dan Manokwari Valeria Papua Barat. Untuk menuju final four yang berlangsung Jumat (28/2) di GOR C'Tra Arena, Jakarta Popsivo mati-matian membalik prediksi banyak orang.

Pelatih Jakarta Popsivo M. Ansori kemarin (24/2) menyatakan bahwa jeda seri reguler menuju final four sangat membantu timnya. Ansori memperbaiki sisi fisik anak asuhnya kira-kira sepuluh hari selama istirahat kompetisi.

''Kemarin dalam putaran kedua, yang dilakukan di tiga kota di Jatim sangat melelahkan. Dari Malang, Banyuwangi, lalu Gresik. Selain pertandingan yang bikin capek, perjalanan satu kota ke kota lain juga menguras fisik,'' terangnya.

Pelatih timnas voli putri Indonesia di SEA Games Myanmar lalu tersebut menuturkan, kini anak asuhnya jauh lebih prima secara kondisi. Setelah ditempa menuju final four di Padepokan Voli Sentul, Ansori melihat bahwa tiga hari bermain tanpa jeda di Bandung skuadnya sanggup meraih kemenangan.

Harus diakui bahwa kans Jakarta Popsivo untuk mempertahankan gelar juara Proliga musim ini berat. Karena kehilangan motor utama tim, yakni Amalia Fajrina Nabila, ke Jakarta Pertamina, serangan tim menjadi kurang menggigit.

Hasilnya, legiun asing asal Thailand, Jutarat Montripila, yang lebih dari tiga musim di Jakarta Popsivo bekerja sendirian. Absennya all around Ayu Cahyaning Siam mem-buat Jakarta Popsivo kehilangan pemain ulet di belakang.

Ansori mengakui, tanpa Aning -sapaan Ayu Cahyaning Siam, lini belakang Jakarta Popsivo seolah ada celah. Meski memiliki libero Dewi Wulandari, pemain asal Blitar itu pontang-panting dalam mengamankan wilayahnya. ''Inilah tahun penuh tantangan buat saya secara pribadi. Tim yang masih muda, ditinggal beberapa pemain kunci, dan mental tim masih naik turun, jadilah kami harus bekerja ekstra keras,'' tuturnya.

Saat disinggung mengenai performa Jutarat, Ansori tidak sepakat bahwa gebukan pemain Thailand itu menurun. Dalam kacamata pelatih berusia 42 tahun itu, Jutarat justru menunjukkan kualitasnya sebagai spiker tangguh dalam Proliga tahun ini.

Mengenai target di Proliga tahun ini, Ansori optimistis mencapai grand final. Dua kekalahan masing-masing dari Jakarta Pertamina dan Manokwari Valeria di seri reguler tidak menciutkan mentalnya.

Di sisi lain, asisten pelatih Jakarta Elektrik Markoji tidak mau lengah dengan lolosnya timnya ke final four. Masuk babak lanjutan di posisi keempat tidak membuat Markoji rendah diri soal timnya. Pria asal Sidoarjo itu yakin minimal bisa memetik satu kemenangan di Bandung.

No comments:

Post a Comment