Friday, March 14, 2014

Ayip Rizal "Saya Berhenti jika Akan Jadi Kapolsek"

Dalam usia 29 tahun, Ayip Rizal menjadi teka-teki bagi penggemarnya: sampai kapan ia akan terus berkiprah di kancah bola voli Tanah Air? Kapten tim voli putra Jakarta Pertamina Energi itu tidak tahu jawabannya.

"Kalau saya mau jadi kapolsek, baru saya akan berhenti," kata Ayip, lalu terkekeh. Ayip memang anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dengan jabatan setingkat kepala unit (kanit) dan pangkat inspektur satu (iptu). Kantor resminya di Markas Besar Polri, Jakarta. Kapolsek adalah kepala kepolisian sektor, pemimpin kantor polisi yang wilayahnya setara dengan satu kecamatan.

"Selama saya dibutuhkan dan saya mampu, tidak masalah. Saya selalu siap (untuk terus main)," katanya seusai sesi latihan Pertamina Energi di GOR C'Tra Arena, Bandung, Jawa Barat, Selasa (25/2). Kali ini serius. "Mungkin dua tahun lagi."

Dalam usia tidak muda lagi, dari penampilannya di lapangan, Ayip masih mampu bersaing dengan para pemain lebih muda. Gerakannya masih lincah. Pukulan smeshnya juga keras. Dengan gaya khasnya melompat, bola servis Ayip kerap menyulitkan pemain lawan.

Bagi penggemar bola voli, kiprah pemain dengan tinggi badan 1,93 meter itu sudah tidak asing. Apalagi, ia juga kapten tim Indonesia. Ia juga sudah beberapa kali juara, mulai dari juara Proliga 2007 dan 2009 (bersama Samator) hingga medali emas SEA Games 2009.

Beberapa tahun terakhir, termasuk di Pertamina Energi tahun ini, Ayip berstatus kapten tim. Menurut dia, tugas itu merupakan pembagian tugas dalam kompetisi. "Kami bagi-bagi tugas. Pelatih dan pengurus menangani soal teknik. Saya yang menangani pemain," katanya.

Sebagai kapten, ia tidak hanya menjadi "komandan" di lapangan, tetapi juga menjadi "tempat curahan keluh kesah" rekan-rekannya di luar lapangan jika ada masalah.

"Kendala di tim kami soal bahasa, tetapi ada saya dan Koko yang bisa menyampaikan (terjemahannya) kepada teman- teman," kata Ayip.

Pertamina Energi saat ini ditangani pelatih asal Belanda, Johan Verstappen. Selain itu, ada dua pemain asing, yakni Ryan Jay Owens (Amerika Serikat) dan Justin Duff (Kanada).

Kendala lain, ego pemain. "Ego pemain itu harus saya juga. Kalau lagi jenuh, saya berinisiatif mengajak nonton film bersama dan nongkrong. Pada saat-saat santai itu, ujung-ujungnya saya melontarkan 'Eh, gimana tim kita?' Dengan cara itu, mereka sangat welcome," papar Ayip.

Ia mengaku, di setiap kota tempat bertanding selama kompetisi, mereka sudah punya tempat favorit untuk nongkrong. Soal nongkrong malam, manajemen Pertamina tidak terlalu kaku. Pemain diberi kepercayaan dan tanggung jawab.

Para pemain pun, kata Ayip, berusaha menjaga kepercayaan itu. Mereka tidak akan pulang larut malam. "Kami didewasakan oleh pelatih: 'Besok kamu mau bertanding dan berlatih, kenapa harus pulang larut?'. Kami sudah didewasakan, jangan salahkan kepercayaan ini," ujar Ayip dengan mimik muka serius.

Menjelang babak empat besar, tugas Ayip tidak ringan. Ia dituntut mampu menjaga kekompakan dalam tim. Dengan kekompakan itu, performa positif pada putaran kedua lalu diharapkan terus berlanjut.

Menurut Ayip, persaingan di babak empat besar akhir pekan ini bakal sangat keras. Pertamina bersaing dengan juara bertahan Bank SumselBabel, Samator, dan Elektrik PLN. Semua tim mempunyai kekuatan dan kelemahan masing-masing.

"Di Samator, pembagi bola sangat jeli. Mereka punya team-work bagus," ujar Ayip. "Lawan PLN, kami harus serang lewat servis. Bank SumselBabel andalkan pemain asing. Kami harus tutup mereka." Buktikan, Ayip!

No comments:

Post a Comment