Thursday, January 30, 2014

Penggemar di Dunia Maya

"Sebuah komunitas, bukan PBVSI, bukan panitia Proliga. Dari kita oleh kita, untuk kita... para
pecinta bola voli. Persembahan untuk Voli Indonesia". Identitas itu ditegaskan Volimania Indonesia, sebuah komunitas para penggemar bola voli, dalam akun Twitter mereka (@VolimaniaID).

Bermula dari sambung rasa di sebuah mailing list (milis) awal 2000-an, sejumlah penggiat internet membentuk wadah komunitas penggemar bola voli. Milis itu sebenarnya sudah menjadi kanal bertukar pikiran dan berita seputar bola voli kegemaran mereka.

Namun, mereka merasa saluran itu belum cukup mengobati rasa "haus" atas olahraga tersebut. Di sisi lain, berita bola voli negeri ini masih kurang. Padahal, rasa haus informasi tentang voli sudah tak tertahankan. Mereka bukan wartawan atau anggota staf klub yang punya akses ke sumber berita.

"Tidak ada di antara kami yang berlatar belakang media. Background kami banyak. Ada yang karyawan swasta, lawyer, pemain voli," kata Benny Windhiarto Nugroho, salah satu penggiat Volimania Indonesia di Solo, Sabtu (18/1) malam.

Pada 2008, mereka sepakat menggelar sarasehan di Bandung. "Ada yang datang dari Kalimantan, Bali, bahkan ada yang dari China dan Belanda. Anggota dari luar negeri itu warga Indonesia yang tinggal di sana," ujar Benny.

Dalam pertemuan, mereka sepakat untuk lebih aktif menuangkan gagasan, berita, atau apa saja terkait bola voli nasional dalam laman yang sudah disiapkan salah satu anggota. "Pertandingan tarkam di pelosok pun boleh diposting," ujar karyawan swasta di jakarta itu.

Pendek kata, mereka melakukan jurnalisme warga. Anggota Volimania mengais berita voli, meraciknya dalam satu tulisan, dan mengunggahnya di situs mereka, www.volimania.org.

Isi dan muatan laman tersebut cukup lengkap. Selain berisi berita voli, laman itu juga kaya dengan data, seperti daftar pemain klub-klub bola voli, jadwal, hasil, dan klasemen terakhir kompetisi. Selain proliga, ada juga tentang Liga Voli Indonesia (Livoli), kejuaraan yunior, voli pantai, voli daerah, dan voli kampus.

Meski sudah lama memutar kompetisi, Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) tidak memiliki situs resmi. Begitu juga Proliga. "Dulu ada situs resmi Proliga. Namun, karena isinya jarang diperbarui, situs itu mati dalam tiga tahun terakhir," ujar Lutfi Sukri dari Humas Proliga.

Mulai 2014, Lutfi berinisiatif membuat situs www.voliindonesia.com. Itu bukan situs resmi Proliga. Ia hanya ingin agar kebutuhan informasi penggemar voli soal Proliga bisa dipenuhi.

Sebagai anggota Humas Proliga, Lutfi tentu punya akses luas terhadap semua pertandingan, pengurus, atau pemain klub.

Kemewahan seperti itu tidak dimiliki anggota komunitas Volimania. Dengan ongkos dari kocek sendiri, mereka datang ketempat pertandingan, membeli tiket, mengamati pertandingan, wawancara sebisa mungkin, lalu menulis laporan untukdibagi ke penggemar voli lainnya lewat situs mereka.

Benny, misalnya. Sabtu (18/1) pagi, ia datang dari Jakarta ke Solo naik kereta dengan tiket pergi-pulang seharga Rp.700.000. Untuk menghemat ongkos, ia tinggal di rumah temannya di Delanggu, Klaten. Minggu malam, ia pulang ke Jakarta karena Senin pagi sudah harus masuk kerja.

Tidak seperti penonton lainnya, sambil menonton, ia mengunggah jalannya pertandingan ke akun Twitter Volimania. Livetweet, begitu istilah populernya di kalangan pengguna Twitter. "Yang sedang di GOR Sritex tolong bantu update skornya Bank Jateng vs BNI 46, terima kasih," tulis Benny saat harus buru-buru ke stasiun, mengejar kereta malam ke Jakarta.

No comments:

Post a Comment